'Flash Sale' Tidak Hanya Perkara Adu Kuat Harga

'Flash Sale' Tidak Hanya Perkara Adu Kuat Harga - Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) menyinggung diskon kilat (flash sale) yang diselenggarakan para pelaku e-Commerce tidak hanya soal harga murah. Ketua umum iDEA Ignatius Untung menuliskan pelaku e-Commerce dapat meningkatkan pelayanan saat flash sale untuk menambah brand awareness.

 

Berdasarkan keterangan dari Untung saat brand awareness meningkat, konsumen tidak bakal berpatokan pada harga saat flash sale diadakan. Bisa saja sebuah pelaku e-Commerce mempunyai layanan yang berkualitas lebih dipilih oleh konsumen dibandingkan pelaku yang menawarkan harga lebih murah.

"Flash sale tidak boleh dikemas seolah-olah melakukan pembelian barang daring tersebut mau menang murah aja. Justru bagaimana metodenya kita inginkan mendorong ini supaya bisa menambah layanan jadi bahkan tidak sangat murah namun orang masih inginkan balik. Itu baru hebat," ujar Ignatius di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/9)

Untuk melihat bilamana flash sale adalah adu powerful harga dengan kata lain produk itu adalah hasil subsidi. Justru kesudahannya produk murah hasil subsidi ini dapat merusak harga pasar.

Ignatius menuliskan tidak jarang sejumlah orang bahkan toko offline melakukan pembelian produk dari flash sale untuk dipasarkan kembali. Pasalnya harga produk di flash sale lebih murah daripada di penyalur resmi.

Menurutnya flash sale dilaksanakan dengan dua cara. Cara kesatu ialah jual rugi supaya tidak makan tempat di gudang. Cara kedua ialah melakukan subsidi produk-produk terutama barang elektronik. Ignatius berasumsi cara kedua ini tidak bagus untuk harga pasar.

"Kami inginkan meyakinkan bahwa flash sale atau promo dilaksanakan tanpa merusak pasar dengan melakukan subsidi produk. Kalau jual rugi supaya tidak menumpuk di gudang ya masuk akal. Tapi bila dia subsidi dagangan yang tidak mengisi gudang, contohnya barang yang baru launching kan tidak mungkin," kata Ignatius.

Hal-hal seperti ini bakal dikaji lebih lanjut guna menilai apakah flash sale ini menyerahkan pengaruh positif atau negatif secara global. Kendati demikian, Ignatius menyatakan bahwa asosiasi tidak dapat mengerjakan pengawasan eksklusif terhadap flash sale semua pelaku e-Commerce.

"Asosiasi ini sifatnya lebih guna menjadi enabler kolaborasi sama mengawal kode etik. Kalau flash sale sudah seperti kami campur tangan ke dalam dapur masing-masing, jadi anda tidak masuk hingga sana,"kata Ignatius.

IdEA bukannya tanpa taji, Ignatius menuliskan idEA tetap dapat memberikan sosilisasi untuk para pelaku e-Commerce bilamana flash sale dirasakan tidak sehat.

"Kita dapat mensosialisasi ini tidak bagus , supaya bergeser dari flash sale . Cara kedua ialah kalau masih tidak mau anda gandeng sebanyak-banyaknya barangkali yang inginkan pindah dari sana jadi konsep ini tidak laku. Jadi mereka yang tidak inginkan bertahan cari teknik baru yang lebih menarik," ujar Ignatius.

Flash sale menurut keterangan dari untuk adalah salah satu format strategi marketing pelaku e-Commerce untuk menambah traffic atau pembeli sebanyak-banyaknya. Minimal semua calon pembeli ini dapat mengunjungi website pelaku e-Commerce tersebut.

"Saya yakin bahwa e-Commerce melakukan flash sale dengan destinasi secara cepat menarik tidak sedikit pembeli atau traffic," kata Ignatius.

Sekian artikel saya tentang 'Flash Sale' Tidak Hanya Perkara Adu Kuat Harga  semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "'Flash Sale' Tidak Hanya Perkara Adu Kuat Harga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel